Bogor, LENSANASIONAL – Bukan ruang redaksi, bukan pula konferensi pers. Hari terakhir Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) justru ditutup di sebuah tempat yang sarat disiplin dan ketegasan: Lapangan Tembak Pistol Bayu Aji dan Mirwariyadin, Batalyon 13 Grup 1 Kopassus, Bogor, Minggu (1/2/2026).
Di lokasi ini, para jurnalis untuk sejenak meletakkan pena dan kamera, lalu memegang alat yang selama ini lebih sering mereka liput dari jarak aman—senjata api. Kementerian Pertahanan membekali peserta dengan latihan menembak sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman wartawan terhadap dunia pertahanan dan keamanan.
Sebelum peluru dilepaskan, satu hal lebih dulu ditekankan: keselamatan. Para pelatih dari Kopassus memberikan pengarahan mendetail mengenai prosedur keamanan, etika penggunaan senjata, hingga teknik dasar menembak yang benar. Setiap gerakan diawasi ketat, menegaskan bahwa senjata bukan sekadar alat, melainkan tanggung jawab besar.

Dengan wajah serius namun antusias, peserta kemudian menjalani latihan menggunakan Pistol G2 Combat produksi PT Pindad, senjata standar yang merepresentasikan kemampuan industri pertahanan nasional.
Dalam arahannya kepada para peserta, Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, secara terbuka mendorong peran aktif media dan jurnalis dalam menjaga transparansi serta akuntabilitas di lingkungan Kementerian Pertahanan.
“Saya minta media dan jurnalis ikut meneliti keadaan di Kementerian Pertahanan. Kalau ada kebocoran di mana pun, selama itu berada dalam wilayah Kemenhan, tolong kabari saya,” tegas Menhan Sjafrie.
Arahan tersebut menegaskan komitmen Kementerian Pertahanan untuk membuka ruang pengawasan publik yang sehat, sekaligus memperkuat sinergi antara institusi negara dan insan pers dalam menjaga kepentingan nasional.
Perwakilan pimpinan redaksi Mudanesia PRMN, Tatos Ridwan A. Fauzi, yang turut mengikuti kegiatan tersebut, menilai latihan ini memberi perspektif baru bagi wartawan dalam memahami isu pertahanan secara lebih utuh.
“Kami tidak sedang dilatih untuk menjadi prajurit, tetapi dibekali pemahaman agar lebih bertanggung jawab saat meliput isu pertahanan dan keamanan. Arahan langsung dari Menteri Pertahanan menjadi pesan penting bahwa pers adalah mitra strategis dalam menjaga transparansi dan kepercayaan publik,” ujar Tatos.

Ia menambahkan, pengalaman berada langsung di lingkungan Kopassus memberikan pelajaran penting tentang disiplin, prosedur, serta standar keselamatan yang ketat—nilai-nilai yang juga relevan dalam praktik jurnalistik.
“Ketika wartawan memahami konteks dan risikonya, produk jurnalistik yang dihasilkan akan lebih berimbang, profesional, dan tidak sensasional,” lanjutnya.
Latihan menembak ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas wartawan dalam menjalankan tugas secara aman dan bertanggung jawab, khususnya saat meliput kegiatan militer, latihan tempur, maupun wilayah dengan tingkat risiko tinggi.
Retret PWI pun ditutup bukan dengan tepuk tangan di aula, melainkan dengan denting peluru di sasaran—sebuah simbol bahwa jurnalisme yang kuat lahir dari pemahaman, disiplin, serta keberanian menjaga kebenaran demi kepentingan bangsa.
(Biro Humas dan Infohan Setjen Kemhan)





