LENSA NASIONAL — Inovasi pembelajaran seni berbasis lingkungan kembali lahir dari dunia akademik. Mahasiswi Pascasarjana ISBI Bandung, Peti Patimah Ratna Puri, sukses meraih predikat cumlaude melalui tesis berjudul “Pembelajaran Music Cup Song Berbasis Limbah Plastik sebagai Wahana Kreativitas Siswa di SMA Negeri 2 Majalaya.”
Peti merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni, Angkatan 1 Pascasarjana ISBI Bandung, sebuah program yang terus mendorong lahirnya inovasi pembelajaran berbasis riset dan praktik.
Penelitian ini disusun di bawah bimbingan Dr. Heri Herdini, M.Hum dan Dr. Otin Martini, M.Pd, serta berada dalam lingkungan akademik yang dipimpin oleh Rektor Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum., dengan Direktur Pendidikan Seni Prof. Dr. Jaeni, S.Sn., M.Si dan Wakil Direktur Pendidikan Seni Dr. Mohamad Zaini Alif, S.Sn., M.Ds.
Menjawab Keterbatasan dengan Inovasi
Berangkat dari kondisi pembelajaran Seni Budaya yang dinilai belum optimal, Peti mengangkat urgensi inovasi model pembelajaran yang ekonomis, kontekstual, dan relevan. Ia memanfaatkan limbah plastik—khususnya gelas bekas—sebagai media utama dalam praktik music cup song, sebuah metode ritmis yang mengandalkan pola ketukan menggunakan benda sederhana.
Pendekatan ini tidak hanya menghadirkan solusi praktis, tetapi juga mengandung nilai strategis berupa edukasi lingkungan berbasis konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), sekaligus menanamkan kesadaran budaya berkelanjutan kepada siswa.

Berbasis Konstruktivisme dan Pendidikan Abad 21
Penelitian ini berlandaskan teori konstruktivisme dari Jean Piaget dan Lev Vygotsky, yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif melalui pengalaman dan interaksi sosial.
Sejalan dengan itu, model pembelajaran yang diterapkan juga mengarah pada penguatan kompetensi abad 21 seperti kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan pemecahan masalah.
Metode PTK dan Tiga Siklus Pembelajaran
Menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kualitatif, penelitian ini melibatkan 36 siswa kelas XII-2 di SMA Negeri 2 Majalaya.
Proses penelitian dilakukan melalui tiga siklus utama:
Siklus I (Adaptasi): Siswa masih meniru pola ritme dasar dengan tingkat kepercayaan diri rendah.
Siklus II (Pengembangan): Mulai muncul modifikasi ritme, peningkatan kolaborasi, dan peran guru sebagai fasilitator.
Siklus III (Pemantapan): Siswa mampu mengonstruksi pola ritmis secara mandiri dan kreatif.
Setiap tahapan menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari sisi kemampuan musikal maupun kepercayaan diri siswa.

Kreativitas Meningkat, Pembelajaran Lebih Hidup
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah plastik sebagai media music cup song terbukti efektif meningkatkan kreativitas siswa. Mereka tidak hanya mampu mengembangkan variasi ritme, tetapi juga menyesuaikan tempo, dinamika, hingga menciptakan komposisi sederhana secara berkelompok.
Selain itu, suasana pembelajaran menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan berpusat pada siswa—sebuah transformasi penting dalam pembelajaran seni di sekolah.
Lebih dari Sekadar Musik
Temuan ini menegaskan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah hambatan mutlak dalam pendidikan. Justru, melalui kreativitas guru dan inovasi metode, pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna sekaligus menanamkan nilai kepedulian lingkungan.
“Pembelajaran ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang membangun kesadaran, kreativitas, dan kerja sama,” demikian benang merah dari penelitian tersebut.

Rekomendasi untuk Pengembangan
Dalam penelitiannya, Peti juga memberikan sejumlah rekomendasi, di antaranya:
- Pengembangan siklus penelitian yang lebih variatif
- Kajian dampak jangka panjang terhadap kreativitas siswa
- Eksplorasi media limbah lain sebagai sumber bunyi
- Penerapan model pada kondisi sekolah dengan keterbatasan berbeda
Dengan capaian ini, tesis Peti Patimah Ratna Puri tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi juga inspirasi nyata bagi dunia pendidikan—bahwa inovasi bisa lahir dari hal sederhana, bahkan dari limbah yang selama ini terabaikan.***




