Lensa Nasional – Sedikitnya empat ekor sapi di Desa Jimbe, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, dilaporkan mati mendadak dalam sepuluh hari terakhir. Kematian sapi-sapi tersebut diduga berkaitan dengan gejala mirip Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Perangkat desa setempat, Moch Aziz Eko Febrianto, mengonfirmasi kejadian tersebut pada Kamis (tanggal tidak disebut). Ia menyebut bahwa empat sapi jenis Brahman yang mati menyebabkan kerugian besar bagi pemiliknya.
“Iya, empat sapi milik warga kami mati mendadak. Gejalanya seperti PMK. Selain itu, ada satu ekor lagi yang sakit,” ungkap Eko.
Menurut Eko, pihak desa telah melaporkan kasus ini ke kecamatan dan dinas terkait. Namun, hingga kini belum ada langkah konkret dari pihak berwenang.
“Sapi-sapi yang mati langsung dikubur oleh pemiliknya untuk mencegah penyebaran penyakit,” tambahnya.
Dinas Peternakan Kabupaten Ponorogo belum memberikan tanggapan resmi mengenai laporan ini. Sebelumnya, wabah PMK di Ponorogo sempat dinyatakan terkendali setelah program vaksinasi massal dilaksanakan pada pertengahan tahun lalu.
Kayun (73), salah satu peternak di Dukuh Setutup, Desa Jimbe, juga mengungkapkan bahwa salah satu dari dua ekor sapinya menunjukkan gejala yang menyerupai PMK.
“Sudah sepekan gejalanya seperti ini. Mulut dan hidungnya berlendir, kukunya luka, tidak bisa berdiri, dan tidak mau makan,” ujar Kayun pada Selasa.
Ia menuturkan bahwa dirinya terpaksa mengobati sapinya secara mandiri karena belum ada kunjungan dari mantri hewan.
“Saya menyemprotkan antibiotik dan memberi pakan secara paksa. Saya hanya berharap sapinya bisa selamat,” katanya.
Kasus ini memicu kekhawatiran peternak setempat. Mereka berharap pemerintah segera bertindak untuk mencegah meluasnya wabah yang dapat merugikan ekonomi masyarakat. Beberapa peternak lain di desa sekitar mulai melakukan langkah pencegahan mandiri, seperti membersihkan kandang secara teratur dan membatasi akses ke area peternakan mereka.
Sebagai gambaran, sapi jenis Brahman dengan bobot lebih dari 500 kilogram dapat bernilai hingga Rp20 juta per ekor, sehingga kematian ternak ini menjadi pukulan berat bagi para peternak.
Sumber: ANTARA





