LENSA NASIONAL – Nama Rizki Adam kian mencuat bukan hanya karena profesinya sebagai pilot pesawat pribadi dan amfibi, melainkan juga perannya sebagai penggerak literasi blockchain di Indonesia. Dengan latar belakang unik sebagai doktor hukum, advokat fintech, sekaligus pemimpin koperasi digital, Rizki menempatkan dirinya sebagai figur multidisipliner yang jarang ditemui.
Perjalanan kariernya dimulai dari dunia penerbangan, di mana ia terbiasa dengan ketelitian dan disiplin tinggi sebagai captain pesawat. Namun, ketertarikannya pada teknologi membawa Rizki Adam ke arah baru: memperkenalkan blockchain sebagai instrumen transparansi dan keadilan yang bisa diakses oleh semua kalangan.
“Banyak orang hanya mengaitkan blockchain dengan investasi kripto. Padahal teknologi ini jauh lebih luas. Blockchain bisa dipakai di berbagai bidang, termasuk koperasi, pencatatan aset, hingga sistem keuangan mikro,” ungkapnya dalam sebuah sesi edukasi di Bali.
Rizki menegaskan, edukasi blockchain tidak boleh dilepaskan dari aspek hukum. Baginya, perlindungan konsumen dan regulasi yang jelas adalah kunci agar masyarakat terhindar dari penipuan berkedok investasi digital. “Teknologi tanpa kepastian hukum justru berisiko. Literasi digital harus jalan seiring literasi hukum,” ujarnya.
Kepemimpinannya sebagai Ketua Umum Koperasi Multi Pihak Aset Digital Nusantara Garuda (KMP ADNG) menjadi bukti komitmennya. Melalui koperasi digital ini, ia berupaya menjadikan blockchain sebagai sarana membangun kesejahteraan bersama, bukan hanya keuntungan segelintir orang.
Dengan citra diri sebagai Kapten Blockchain Berbasis Hukum, Rizki Adam ingin menuntun publik menavigasi dunia digital yang penuh tantangan. Dari kokpit pesawat hingga panggung seminar, ia konsisten menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi alat untuk transparansi, kolaborasi, dan masa depan yang lebih inklusif.***





